Rabu, 07 Maret 2018

ASTA BATTANGAN

CERITA RAKYAT KYAI BATTANGAN GAPURA TIMUR

Pada sekitar tahun  + 1750, langit disekitar SUMENEP nampak begitu cerah, seluruh rakyat gembirah dengan adanya seorang panutan yang berwibawa yaitu Kyai Abdullah ( Kyai Filah ) yang hidup dengan seorang istri bernama Nyai Romlah ( Nyai Filah ) dari pasangan beliau berdua dikaruniai dua orang putra bernama Kyai Qabbul ( Kyai Battangan ) dan Kyai Agung Khafah ( Kyai Qaffal ) beliau berdua memiliki wajah yang serupa sulit untuk membedakannya. Sejak kecil beliau di didik langsung oleh Kyai Abdullah ayahnya dari bermacam pengetahuan khususnya ilmu agama, yang merupakan cita-cita Kyai Abdullah sendiri agar kelak kedua anaknya menjadi orang yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, negara, dan agama.
             Tidak lama kemudian yang mana salah satu kebiasaan orang-orang terdahulu yaitu bertapa. Maka Kyai Abdullah pergi ke puncak gunung so’onan yang ada di daerah panarokan situbondo untuk menjalani tapa menyatukan diri dngan Tuhannya.
            Kini tinggallah Nyai Romlah bersama kedua putranya. Hari demi hari dilalui sampailah putra-putranya pada usia 7 tahun. Di usia inilah Kyai Qobbul ( Kyai Battangan ) nampak memiliki kelebihan pada dirinya yaitu Kyai Qobbul ( Kyai Battangan ) menghilang ( mokso ) tanpa diketahui dimana keberadaannya. Akhirnya sang ibu Nyai Romlah kebingungan dan meratapi keberadaan putranya yang menghilang.
            Hingga lamanya  3 tahun Kyai Qobbul ( Kyai Battangan ) belum kembali jua dan tanpa adanya kabar sama sekali. Sang ibu Nyai Romlah mencoba mencari putranya yang menghilang, kesana kemari Nyai romlah mencarinya namun juga belum menemukannya. Pada akhirnya Nyai Romlah merasa putus asa sebagai langkah terakhir Nyai Romlah hanya bisa pasrah saja pada Tuhan beliau berdo’a memohon petunjuk tentang keberadaan putranya sambil bersemedi. “ Ya Allah ! segera pertemukanlah hamba dengan putraku....” lalu Nyai Romlah dalam semedinya didatangi suara gaib entah siapa, entah dimana datangnya suara itu. Kemudian suara itu menyuruh Nyai Romlah untuk mencari putranya yang hilang itu dipinggir pantai. Lalu kemudian ke esokan harinya Nyai Romlah beranjak pergi menelusuri jalan setapak dengan iringan ratapan dalam jiwa menuju pantai yang ditunjukkan oleh suara gaib dalam semedinya tadi. Setelah Nyai Romlah sampai ternyata dipinggir pantai itu tidak ada siapa-siapa yang ada hanya deruan ombak yang mendebur. Semakin beratlah hati Nyai Romlah lalu beliau jatuh tergulai diatas pasir putih, melihat keadaan kosong tanpa seorangpun berada.
            Dan Nyai Romlah memutuskan untuk menunggu putranya ditempat itu. Setelah 7 hari lamanya Nyai Romlah dalam penantiannya tiba-tiba air laut surut, disaat itu juga muncullah seorang yang nampak duduk bersilah dengan tubuh yang penuh dengan hewan KAPPAT ( hewan sejenis kepiting ) yang menyelimuti dirinya sehingga tubuhnya tidak terlihat dari saking banyaknya hewan tersebut. Terus Nyai Ronlah menghampirinya dengan ucapan salam.( “ assalamu alaikum...”) jawab orang yang duduk bersilah itu, ( “ wa alaikum salam...”) nah kemudian orang itu menoleh kepada Nyai Romlah. Betapa kagetnya dan gembiranya hati Nyai Romlah disaat melihat orang duduk bersilah itu ternyata tidak lain dia adalah putranya sendiri yaitu Kyai Qobbul ( Kyai Battangan ) yang telah berminggu minggu beliau mencarinya. ( dari situlah Kyai Battangan mendapat julukan Kyai Kappat ).
5.
            Berapa tahun kemudian Kyai Battangan menginjak usia Remaja, diam-diam Kyai Battangan itu telah berpikir-pikir tentang keadaan disekitarnya. Mengapa manuasia hidup ini harus nerasa lapar? Mengapa Tuhan membuat rasa lapar? Lalu kemanakah manusia itu setelah mati? Adakah hidup lain setelah mati? Adakah mati lain setelah mati kemudian mati?
5.
            Pertanyaan – pertanyaan itu bertumpuk di dalam benak Kyai Battangan semua itu harus dijawab dengan jelas dan masuk akal. Ia sudah mengajukan pertanyaan – pertanyaan itu kepada Nyai Romlah. Dan wanita itu telah menjawabnya. Jawabannya sama, bahwa manusia harus lapar karena Allah, manusia harus mati karena Allah, setelah manusia mati akan ada kehidupan lain tanpa mati lagi karena Allah, dan semuanya karena Allah. Ah..., begitu habatnya Allah itu pikir si kecil Kyai Battangan. Allah bisa membuat hidup, bisa membuat mati, bisa membuat lapar dan kenyang, bisa membuat mati hidup kembali, dan bisa membuat segala-galanya. Tetapi siapakah Allah dan dimana Dia berada? Di negara mana? Anaknya siapa? Dan apa?
            Kyai Battangan memang seorang anak yang cerdas. Jawaban dari Nyai Romlah ternyata telah membuat pertanyaan-pertanyaan itu semakin bertumpuk. Semua itu karena Nyai Romlah tidak dapat memberikan jawaban yang dapat memuaskan hatinya. Hati dan fikiran anak seperti Kyai Battangan membutuhkan kejelasan dari setiap jawaban, kejelasan yang di terima oleh  akal dan hati sanubarinya yang keras itu. Kemudian ia bertanya lagi pada ibunya dengan pertanyaan baru yang cukup membingungkan.
“ibu..., mengapa anak-anak itu harus lahir ke dunia? Dan dari mana asalnya aku dan anak-anak lainnya?
Ya Allah...! bisik hati Nyai Romlah. Anak ini benar-benar membingungkan, mau jadi apa anak ini nantinya?
Pertanyannya selalu mendalam meskipun dalam bentuknya yang amat sederhana. Lagi-lagi Nyai Romlah tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan sempurna. Dan jika Kyai Battangan mendesaknya, ia hanya mampu menangkisnya dengan tangisan. Baru setelah itu Kyai Battangan menghentikan pertanyaannya. Barangkali anak itu senang mendesak ibu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat wanita itu jadi menangis tersedu-sedu.
            Kyai Battangan selalu bertanya :
            “Mengapa ibu menangis? Adakah pertanyaan-pertanyaanku yang menyinggung perasaan ibu?
            Nyai Romlah menggelengkan kepalanya. Pertanyaan anak itu tidak menyinggung perasaannya. Ia menangis karena merasa dirinya bodoh dan tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan sempurna. Nyai Romlah memeng bukan seorang ahli kitab, bukan wali atau guru agama. Dia hanya seorang wanita biasa yang kebetulan beragama islam dan taat menjalankan ibadat menurut aturan agamanya. Lain tidak. Namun diam-diam dia berpikir mengenai anaknya itu. Ia tidak ingin Kyai Battangan terbelenggu oleh pertanyaan-pertanyaannya sendiri tanpa memperoleh jawabannya. Ia bermaksud menyekolahkan anaknya kemana saja yang dianggapnya baik.
            Pada waktu itu di Bangkalan, sebuah daerah dekat surabaya terdapat pesantren/pondok yang sangat terkenal. yang punya adalah seorang Wali Yaitu Kyai ABD. ADZIM. Berita mengenai pesantrennya termashur kemana-mana hingga terdengar juga oleh Nyai Romlah. Barangkali kesanalah Kyai Battangan harus disekolahkan, pikirnya. Kemudian ditawarkan hal itu kepada anaknya.
            Alangkah gembiranya Kyai Battangan mendengar niat ibunya. Lebih-lebih ibunya berkata :
            “Disana engkau akan memperoleh semua jawaban yang selalu kau tanyakan asalkan kau tetap mau bertanya. Kita memang harus bertanya jika memang tidak tahu. Malu bertanya sesat di jalan. Lain lagi jika guru bertanya. Bukan berarti guru tidak tahu, melainkan dia menguji, mencoba muridnya apakah sudah mengerti tentang apa yang diterangkannya. Jadi engkau harus bisa membedaka pertanyaan mana yang menguji dan pertanyaan mana yang memang karena kau tidak mengerti. Tidak semua pertanyaan berarti harus dijawab dengan kata-kata atau ucapan, sebab ada pertanyaan yang harus dijawab dengan bisikan hati dan perbuatan.”
            Demikianlah pada usia 17 tahun Kyai Battangan dikirimkan oleh ibunya ke Bangkalan untuk belajar.
            “Berangkatlah anakku, do’a ibu menyertaimu........” kata Nyai Romlah ketika melepas anaknya. “Nanti jika engkau telah menjadi manusia yang pandai maka amalkanlah ilmu itu bagi mereka yang membutuhkannya.”
            Hati Nyai Romlah merasa terharu menyaksikan kepergian anaknya. Begitu kasihnya dia kepada anaknya sampai melabihi kasihnya kepada dirinya sendiri. Untuk menemani Kyai Battangan berangkat ke Bangkalan Nyai Romlah memerintah Kyai Agung Khafah saudara kandung Kyai Battangan sendiri.
            Sejak Kyai Battangan tinggal dan belajar di Pesantren Bangkalan. Kyai Battangan hanya disuruh membantu di dapur dan mengembala kambing. Dan pada suatu kesempatan dipanggilnya anak muda itu ke rumahnya.
            “Duduklah Qobbul,” kata sang guru memberi tempat dihadapannya. Tatakrama dan sopan santun yang ditunjukkan Kyai Qobbul ( Kyai Battangan ) semakin menarik perhatian sang guru.
            “Bagaimana rasanya tinggal disini?” tanya sang guru ingin mengetahui perasaan murid barunya.
            “Hamba senang sekali guru”.
            “Senang karena hidup bebas tidak diawasi oleh orang tua atau bagaimana?” selidik sang guru sambil tersenyum.
            “Hamba merasa senang disini karena banyak memperoleh pengetahuan. Disini hamba bisa membaca kitab-kitab suci, bisa mendengarkan khotbah, dan bergaul dengan sesama teman.”
            “Kalau begitu, apa yang telah kau peroleh dari pesantrenku selama ini Qobbul?”
Kyai Battangan agak ragu untuk menjawabnya. Ia segera menunduk. Apa yang telah diperolehnya dalam waktu sesingkat ini? Melihat keraguan itu Kyai Battangan sang guru tersenyum, kemudian katanya :
            “Jangan ragu-ragu, katakan saja pengalamanmu selama tinggal dipesantrenku ini . enak atau tidak enak, katakan itu kepadaku. Mengapa kau harus takut menceritakan kebenaran yang kau lihat selama ini. Kau boleh cerita tentang para murid yang telah berkelahi di kamar mandi kemarin dulu. Kau boleh mengatakan apa saja sesukamu tanp ragu-ragu karena aku tidak akan menghukummu.”
            Karena Kyai Battangan masih terdiam, sang guru berusaha mempertinggi suaranya.
            “Aku telah memberimu kitab!” ujar sang guru setengah membentak. Kyai Battangan tersentak dan menetap wajah gurunya kemudian berkata :
            “Hamba belum memperoleh apa-apa di pesantren ini guru. Kitab-kitab yang guru berikan hanya mampu mengusir kesepian hamba belaka.”
            Sang guru tertawa, kemudian diusapnya kepala Kyai Battangan.
            “Engkau memang anak yang jujur. Aku memeng belum memberikan pelajaran apa-apa kepadamu kecuali kita-kitab itu. Sesungguhnya kitab adalah gudang ilmu, dan membaca itu kuncinya.”
            “Selama hamba tinggal disini, Guru belum pernah menegur ataupun memperhatikan hamba, apalagi memberikan pelajaran. Semula hamba berniat ingin kembali ke kampung halaman saja.”
            “Lho, mengapa kau tadi mengatakan sangat senang tinggal disini.”
“Hamba merasa senang karena guru lebih senang membiarkan hamba tetap bodoh.. dan hamba lebih senang lagi jika guru memanggil hamba dijemur bersama murid-murid lain yang telah melanggar peraturan pesantren.”
            Sang guru menggernyitkan jidatnya mendengar jawaban anak muda yang berani itu. Sebagai manusia biasa sang guru merasa tersinggung. Tetapi sebagai seorang wali yang linuhung apa yang diucapkan Kyai Battangan merupakan koreksi yang paling tajam terhadap dirinya. Di sudut lain sang guru menilai jiwa anak itu seperti memendam suatu kekuatan  dan keberanian yang luar biasa. Sedikit sekali murid yang memiliki keberanian bertatap muka denagn wali, atau berdiri sejajar. Dan menurut suatu ceriata, orang akan lumpuh dengan sendirinya jika berdiri setara dengan wali. Tetapi Kyai Battangan ternyata tidak pingsan bahkan mampu menyampaikan isi hati yang sebenarnya.
            “Kau begitu berani berkata demikian di hadapanku Qobbul!” kata sang guru seperti marah.
            “Karena paduka sendiri yang meminta hamba berkata jujur. Dan hamba sejak kecil telah di didik untuk berkata seperti itu.”
            Sang guru ternyata tidak marah. Ia tengah menguji kekuatan mental Kyai Battangan, mencoba prilaku yang terpendam jauh didalam lubuk hati anak itu. Nada suaranya kembali lembut tapi berwibawa.
            “Tetapi  ...........” katanya kemudian. “Mengapa manusia itu harus lapar, guru?”
            “Karena dia hidup!” jawab sang guru cepat. “Tanpa hidup, manusia tidak akan merasa lapar, tua, sakit, dan mati. Orang yang sudah mati tidak memerlukan makan dan minum serta lain-lainnya. Orang mati tidak memerlukan dupa dam kembang tujuh warna. Orang mati hanya membutuhkan pertolongan manusia yang masih hidup, pertolongan untuk menyampaikan do’a kepada Allah agar dilapangkan jalannya, diringankan dosanya, dan diterima di sisiNya. Masih ada yang ditanyakan, Qobbul?”
            “Masih Guru. Mengapa manusia harus lahir dan harus mati?”
            “Karena Allah, maka manusia harus lahir dari rahim ibu. Suatu zat dari ibu bersatu bersatu dengan zat dari bapak yang kemudian membentuk jadi segumpal darah yang disebut janin. Sembilan bulan lamanya didalam perut  kemudian tumbuh menjadi  bayi dan lahir. Begitulah prosesnya. Dan yang mengatur proses itu adalah Allah. Manusia harus mati karena manusia itu pernah hidup, dan itu semua terjadi karena kuasa Allah pula. Janji Allah adalah KULLU NAFSIN DAIQATUL MAUT. Setiap manusia pasti akan menemui kematian.
            Demikianlah hari demi hari Kyai Battangan hanya dapat pelajaran dari gurunya ketika Kyai Battangan mau bertanya setelah itu Kyai Battangan hanya disuruh mengembala kambing setiap hari. Kemudian suatu saat Kyai Battangan di suruh mengajar murid-murid yang lain oleh gurunya, namun Kyai Battangan tidak bisa mengajar karena pada saat itu masih belum mendalami semua pelajaran. Maka dari itu Kyai Battangan melakukan tirakat berpuasa sunnah setiap hari dan disaat berpuasa bukanya dengan singkong.
Seperti biasanya setiap hari Kyai Battangan itu mengembala kambing ke hutan, disaat  kambing sedang makan rumput dan Kyai Battangan sambil duduk dibawah pohon beringin yang rindang tiba-tiba datang seorang kakek tua berpakaian putih dengan tongkat ditangannya lalu memanggil salam pada Kyai Battangan.
            “Assalamu alaikum...”
Kyai Battangan dengan perasaan kaget dan kata gugup menjawab, “Wa alaikum salam”.
            “Heeeee..... anak muda sedang apa kau disini” kakek tua itu sambil mendekat ke Kyai Battangan.
            “Hamba lagi ngembala kambing kek” jawab Kyai Battangan.
            “Aku sudah tahu kalau kamu  saat ini lagi berpuasa, kenapa kamu  berpuasa”.
Kyai Battangan terperanjat mendengar ketarangan kakek tua yang tidak diduga-duga itu.
            “Ampun kakek, meskipun mungkin kelak hamba tidak diterima sebagai murid, sudilah kiranya kakek memberikan wejangan untuk hamba, agar hamba bisa memahami semua pengetahuan.”
            “Hhmmmm............ kalau soal itu, baiklah. Sekarang buka mulutmu”. Kakek tua itu meminta Kyai Battangan untuk membuka mulut, setelah Kyai Battangan membuka mulutnya kemudian kakek tua tersebut menuangkan air barokah ke dalam mulut Kyai Battangan. Kakek tua tersebut ternyata dia adalah Nabi Khidir a.s


ASTA BATTANGAN

CERITA RAKYAT KYAI BATTANGAN GAPURA TIMUR Pada sekitar tahun  + 1750, langit disekitar SUMENEP nampak begitu cerah, seluruh rakyat gem...